Fhoto di Bengkulu

Di penago baru





Mengenalkan Zenzi



Firman suka sekali memanggil Zenzi dengan sebutan zi, berbeda denganku, aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan zen. Tapi jika aku terlebih dahulu memanggil zen lalu disusul firman zi,.maka perpaduan dua panggilan ini menjadi pelengkap dari  nama Zenzi.
Aku mengenal Zenzi atas usaha Cadik, dan aku sendiri berkeyakinan bahwa ada niatan dibalik usaha memperkenalkan itu. Memang tidak lain, cadik menginginkan aku untuk berperan aktif dalam kerja kolektif bersama Zenzi di Bengkulu.
Setelah beberapa lama aku dan Zenzi terikat secara emosional dan struktural, Zenzi memperkenalkan aku dengan keluarganya. Beberapa waktu belakangan ini baru  aku sadar kenapa zenzi sangat ingin sekali mengenalkan aku dengan keluarganya. Zenzi pernah memiliki saudara  kandung, namun saat kakanya masih duduk di bangku sekolah menengah atas, kaka Zenzi meninggal dunia. Menurut cerita Zenzi setelah mengenalkan aku dan keluarganya, kaka Zenzi cukup mirip denganku, dan hampir bernasib sama pula, salah satu kakinya sakit akibat kecelakaan.
Sebelum meninggal, kaka Zenzi selalu menggunakan tongkat untuk berjalan. keluraga Zenzi sepertinya menyayangiku, mereka menganggap aku adalah seperti kaka Zenzi yang sudah meninggal. Pernah pertama kali perkenalan itu, adik Zenzi yang perempuan sempat sedih ketika melihat kehadiranku. Zenzi mengatakan, bahwa adiknya sangat teringat kakanya ketika melihat kehadiranku.

Mengenalkan Rini



Marini si payung lengkapnya, Rini hanya panggilan seharinya. Rini berasal dari Sumatra utara. Kesibukanhari-harinya bekerja sebagai wartawan di ANTARA.
Beberapa kegiatan pernah kami lakukan bersama di Bengkulu. Salah satunya adalah melakukan Expedisi sungai air berau di Muko-muko Bengkulu. Rini satu-satunya perempuan yang ikut dalam Expedisi itu, awalnya memang juru kunci sungai melarangnya untuk ikut dalam kegiatan, namun dia mampu meyakinkan juru kunci itu dan alhasil dia bisa bergabung dalam satu tim.
Terakhir rini memberikan aku oleh-oleh dari kampung halamannya, walau aku sendiri tidak sempat mencicipi manisnya syirup markisa darinya, ketika titipan itu sampai di kantor, aku sedang berada dilapangan dan ternyata titipan itu telah jatuh ketangan pendekar berwatak jahat heeehhhee

Mengenalkan Firman



Firman,. lulusan perguruan tinggi Negri Bengkulu, mendapat gelar S1 fisipol. Bercita-cita menjadi seorang dosen, namun niatannya terganjal karna dia tidak bisa lulus dalam ujian masuk S2 di Universitas Indonesia. Firman juga seorang yang tidak asing bagiku. Pengalaman-pengalaman yang masa lalu dalam 9 tahun belakang menjadi ikatan emosional tersendiri bagi aku dan Firman. Pertama kali kami bertemu di Bengkulu, ketika itu aku  mendapat giliran dari pemerintah daerah Jogjakarta untuk melakukan study banding kebudayaan Bengkulu. Waktu itu aku masih semester VI. beberapa lokasi yang menjadi study bandingku di Bengkulu, Firmanlah yang setia menemani. Pengalaman lain ketika Firman sudah menyelesaikan gelar S1 nya, kami pernah satu lokasi Kursus bahasa inggris di Pare Jawa timur, tidak lama hanya 6 bulan.
Kami pernah membicarakan tentang hal masa depan disana, tentang pekerjaan dan cita-cita, terakhir itu kami bicarakan ketika Firman berkunjung dirumah kediaman orang tuaku Bekasi. Kami sepakat dan bercita-cita apapun yang akan kami lakukan kedepannya adalah sebuah usaha dalam menjunjung nila-nilai  hak kemanusiaan, dengan apa yang kami bisa persembahkan.

Saat itu ketika Firman mengetahui ujian S2 nya tidak lulu, keputusan untuk menetap kembali di Bengkulu diputuskannya.
Sebenarnya ada satu pekerjaan yang dulu sangat dicintai oleh Firman, menjadi wartawan disalah satu harian berita lokal di kota Bengkulu. Namun karna sistem pemuatan berita yang terlalu kaku dan tidak berani untuk mengungkap, membuat Firman keluar dari instansi harian surat kabar itu.
Kini seperti sebuah takdir yang tidak bisa dibaca oleh manusia, kami sekarang dalam sebuah satu wadah, bekerja bersama dalam satu irama dan yang sangat menspektakulerkan adalah, cita-cita dan keinginan kami untuk berkerja bersama dalam ikatan emosional dan struktural benar-benar terjadi.
Firman kini sudah memiliki bayi mungil, perempuan Calista namanya, ketika Firman membawanya kekantor, selalu saja membuat keinginan-keinginan itu muncul,.
hahahhaaa...iyah, keinginan untuk memiliki seorang bayi perempuan,.

Mengenalkan Cadik



Adalah nama Cadik biasa  dia dipanggil oleh sahabt-sahabatnya, selain pintar, dia banyak akal dan sering lepas dari jeratan masalah yang dihadapinya. Namun karna wataknya yang terkadang menganggap segalanya mudah, dia tidak jarang mendapatkan masalah yang bertubi-tubi. Tubuhnya yang kecil sering menjadikan lumayan unik ketika aku diboncengi motor besarnya, jika jarum kecepatan mencapai 80.km/jam, maka tidak ayal lagi angin yang bertiup sangat kencang akan langsung menekan dari arah depan.
Cadiklah orang yang pertama kali mendorongku untuk tinggal di Bengkulu, keluarga cadik cukup dekat denganku. Orang tuanya memiliki berhektar-hektar kebun kopi, lada dan kebun sawit. Terkadang jika kebun orang tuanya sedang panen, aku ikut dengan Cadik kedusun dimana kebun-kebun orang tuanya berada.
Cadik mempunyai hubungan dekat dengan seorang perempuan yang berasal dari Jawa. Dulu  kami satu kampus, Atin namanya. Hubungan mereka cukup serius, sampai tidak jarang kadik menceritakan niatannya untuk menikahi Atin. Sampai ditahun awal 2010 ini aku mendengar kabar dari Atin, Cadik memutuskan hubungan mereka “ini tidak benar dan tidak adil, aku selalu coba setia, tapi sekarang, Cadik malah ninggalkan sy”  itu terakhir yang kudengar  di telpon dari atin mengenai hubungan mereka.
Aku coba untuk tidak masuk dalam persoalan cadik yang satu ini, karna disamping aku juga tidak pernah teruji dalam praktek, masalah itu juga bagian dari pribadi mereka.
Kini Cadik juga bekerja disalah satu NGO yang berada di Bengkulu, yang membedakannya denganku adalah, pekerjaan cadik fokus pada konservasi dan advokasi satwa.
Jika Cadik pulang kekota, dia tidak lupa untuk menemuiku yang dilanjutkan kami menemui sahabat-sahabat lama lainnya di Bengkulu. Tidak banyak yang akan kami lakukan ketika sudah berkumpul, biasanya kami akan bersantai-santai dipantai panjang Bengkulu ketika sore sudah mulai memanja.
Pantai Bengkulu sore hari memang cukup menyenangkan, ditambah jagung bakar yang siap disajikan oleh pedagangnya, aku paling suka jika jagung bakar itu sengaja di olesi dengan sambal,. hmmm jika sudah demikian, muncul komentar dari Firman, kau senang atau lapar wik..???
Hahhaaaa,...tawa serentak terdengar.




Bukan pelarian

02 juni 2009,.
Aku terbiasa hidup untuk memikirkan dan menindakan segala hal yang menjadi persoalan umum .Ini bukan sesuatu yang tidak sengaja atau yang  begitu saja jatuh darilangit.
Semua terjadi dalam sebuah perjalanan hidup yang mungkin bagi seseorang biasa-biasa saja, namun aku katakan tidak bagiku.
Selepas aku menyelesaikan sekolah lanjutan menengah atas, aku memutuskan untuk kuliah di kota Jogjakarta. Dari sanalah kemudian benih-benih yang merubah cara pandang hidupku berubah secara drastis. Lingkungan yang membesarkanku sebelumnya, hanya mengenalkanku pada sebuah pencapaian-pencapaian yang bersumber dari individualisme yang sempit. Lingkungan yang penuh dengan persaingan-persaingan untuk mendapatkan kenyamanan dan fasilitas-fasilatas kemapanan.
kemudian di Jogjalah aku mendapatkan segala yang barunya.
Kemudian di Jogjalah aku mendengarkan, membaca, berdiskusi dan melakukan hal-hal yang menawarkan sebuah nilai-nilai kemanusiaan.
Nilai-nilai yang membuka ruang berpikir dan membebaskan jiwa untuk membimbing rasa pada tubuh untuk melakukan sesuatu yang besar, sesuatu yang dikenal sebagai bendera KEMANUSIAAN.
Di Jogja aku manjakan jiwa untuk mempelajarinya, dan di Jogja aku melatih tubuh untuk memberikan sebuah keyakinan, bahwa ketika sesuatu yang di dalam hati kita adalah bersumber dari rasa manusia yang tersepikan, maka penderitaan adalah kemerdekaan diri.

Untuk apa kita tertawa oleh sesuatu yang sebenarnya itu akan menjadikan manusia lain akan semakin tersepikan,...???

Di jogja,..
aku mendapatkan idialisme.
Di jogja juga aku sudah mampu mengukur kemampuan untuk mendapatkan materi.
Namun keberhasilan dalam materi dan idialisme yang ku peroleh di Jogja, kini menjadi penempa di kota Bengkulu ini.
Secara materi, aku tidak membawa sedikitpun yang aku sudah miliki waktu di Jogja. Hanya keyakinan idialisme yang ku bawa untuk di kota ini dan mudah-mudahan menjadi energi yang penting untuk semua hal yang aku lakukan di sini.
Aku sudah menyaksikannya disini, di kota Bengkulu,.
Aku sudah mendengarnya di sini, di kota Bengkulu,.
Dan aku ingin satu persatu menjadi persembahan bagi manusia yang tersepikan.


Bengkulu sore hari

Spertinya habis sang siang
Yang kini menjadi berwarna merah jingga yang nampak di langit
Membiasakan untuk bertahan pada keadaan
Adalah pertarungan yang sia-sia
Tidak ada yang termenangkan
Tidak ada dialektika yang menara
Membisukan gerak
Hampir sama dengan mematikan jiwa
Karna jiwa dan tubuh adalah esensi gerak
Yang menjadi sebuah lingkaran dari aturan hidup
Tidak benar ketika hidup tanpa gerak
Karna hidup adalah sesuatu yang berubah secara tertur


Bergeraknya hidup tidak harus maju
Karna terkadang
Ketika jiwa terkuasai oleh badan
Maka hidup akan mundur
Itupu sebaliknya
Ketika jiwa memenangkan badan
Maka dialektika hidup akan terjadi
Pergerakan hidup akan mejadi sebuah luncuran busur panah
Ketika dia mengenai sasaran maka itulah tujuan
Bukan tanpa kesengajaan
Karna sesuatu yang terencana dalam hidup menjadi sebuah pandangan
Membiarkan segalanya seperti biasa
Adalah membiarkan anak panah yang tidak di lepaskan dari busurnya

Tidak perlu adanya pengakuan atas kemenangan diri
Karna kemenangan diri hanya menjadi sebuah candu
Candu yang akan menjadi urat syaraf gerak menjadi lamban dan malas
Ketika melakukannya kembali suatu ketika
Akan terjadi gerakan yang tidak terarah dan terencana
Kesemuanya dalah bersumber dari kemalasan dan keputusasaan

Belajrlah dari sebuah dialektika alam
Alam yang akan selalu melakukan evolusi gerak untuk menjadi yang lebih baik dan smpurna
Tidak apa walau itu terlihat akan menjadi kejam
Krna bencana yang di berikan oleh alam adalah upaya pengendalian dari sebuah keseimbangangan yang tetap
Karna jika tidak
Maka kerusakan dan ketidak stabilan akan menjadi beberapa yang teragukan oleh kekuatan alam dan kekuatan yang Maha Esa.

Jangan pernah menyerah atas segala usaha yang kita anggap baik
Walau itu akan terlihat mengerikan
Karna jika tidak
Kita sendiri yang akan membiarkan segalanya menjadi tidak pasti dan kebencanaan itu akan terjadi sepanjang masa
Maka lakukanlah hal itu
Walau hati sebenarnya tidak mengiyakan


Di kantor walhi Bengkulu 29/01/2010,17.41